PERTEMUAN DENGAN GUBERNUR KEBWESelama tiga hari, Prof. Ratlan Pardede, Dubes RI untuk Tanzania telah melakukan kunjungan kerja ke Provinsi Morogoro untuk mengidentifikasi kembali sektor kerja sama potensial bagi peningkatan hubungan ekonomi Indonesia dengan Tanzania. (29-31/08/17)

Selama kunjungan tersebut, Dubes Pardede telah bertemu dengan Regional Commissioner (Gubernur) Morogoro, Ketua Kamar Dagang Investasi dan Agrikultur serta kalangan pengusaha.

PERKEBUNAN RUTA PERKEBUNAN RUTA 2Selain itu, Dubes Pardede juga menemui langsung petani dari Morogoro yang pernah mengikuti pelatihan tani oleh ahli pertanian asal Indonesia di Farmer Agriculture Research and Training Centre (FARTC).

“Indonesia dan Tanzania memiliki potensi untuk saling melengkapi satu sama lain di bidang perdagangan dan investasi. Untuk itu saya datang ke Morogoro dalam upaya meningkatkan hubungan ekonomi Indonesia dengan Tanzania” ucap Dubes Pardede.

Dubes Pardede menambahkan, nilai perdagangan Indonesia dengan Tanzania mengalami penurunan sebesar 5.39% pada tahun 2016 dibandingkan tahun 2015.

Sementara di saat yang bersamaan, terdapat peluang bagi Tanzania untuk mengisi kebutuhan bahan mentah bagi produksi industri Indonesia yang tidak sepenuhnya mampu dipenuhi oleh produksi di dalam negeri.

Gubernur Kebwe Stephen Kebwe menyatakan Provinsi Morogoro dapat menjadi pintu masuk bagi investasi Indonesia di Tanzania mengingat lokasinya yang cukup strategis.

“Ini adalah waktu yang tepat untuk berinvestasi di Morogoro, tidak hanya dikarenakan kondisi alam yang subur tetapi juga memiliki lokasi strategis di antara Dar es Salaam dan Dodoma” kata Gubernur Kebwe.

Apresiasi positif atas kesungguhan Dubes Pardede juga disampaikan oleh Mwadhini Myanza, Ketua Kamar Dagang Investasi dan Agrikultur Morogoro.

“Morogoro menyambut baik keinginan Dubes RI, untuk itu kami ajak Indonesia untuk dapat berinvestasi di sini” ungkap Mwadhini Myanza.

Morogoro adalah kawasan yang menjadi salah satu dari dua lokasi pusat penghasil beras di Tanzania.

Namun, minimnya dana pembangunan dan pengembangan kapasitas di sektor pertanian menyebabkan belum maksimalnya pengembangan jenis tanaman pangan lainnya di tengah banyaknya lahan tidur.

Selain berhasil menjaring masukan positif dari pengusaha dan pejabat daerah, Dubes Pardede juga telah mengidentifikasi adanya keperluan atas mesin pengolah dan pengemasan produk pertanian di Morogoro.

Desderry Ruta, pengusaha bidang agrikultur Tanzania, tengah membangun suatu kawasan industri agrikultur terpadu serta sangat berminat membeli mesin-mesin pengolah dan pengemas produk-produk hasil pertanian.

“Semoga pada Trade Expo Indonesia tahun ini saya dapat menemukan mesin pengolahan dan pengemasan produk pertanian berkualitas dengan harga terjangkau dari Indonesia” harap pengusaha yang akrab disapa Mr. Ruta.

Meski jumlah belum terlalu banyak, pengusaha Tanzania selalu menyempatkan diri mengunjungi Trade Expo Indonesia.

Sebagaimana Mr. Ruta yang telah berencana membeli produk buatan Indonesia pada TEI ke-32 bulan Oktober ini.

TEMU BISNIS MOROGOROSetelah mencatat masukan dari banyak pihak serta melihat secara langsung potensi masuknya investasi Indonesia di Morogoro, Dubes Pardede menilai upaya peningkatan hubungan ekonomi Indonesia dengan Tanzania bukanlah tidak mungkin.

“Perlu kerja sama dari KBRI dengan pemangku kepentingan di Morogoro untuk menyajikan studi kelayakan bagi pebisnis dari kedua negara sehingga terdapat gambaran prospek bisnis di Tanzania” pungkas Dubes Pardede.

Gubernur Kebwe menyatakan siap mengerahkan jajarannya untuk membantu membuat studi kelayakan sesuai yang disampaikan Dubes Pardede.

Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi

Sherly Ponti Windarfi
sherly.pwindarfi@kemlu.go.id

 

Comments are closed.



Statistical data collected by Statpress SEOlution (blogcraft).